Selamat Datang di Duniaku :) DUNIA MAYA :)

bintang biru

Selasa, 09 Oktober 2012

ALL ABOUT ME

Nama ku Ayu Mayasari, aku dilahirkan di salah satu Rumah Sakit Swasta di Bandar Lampung 19 tahun yang lalu, tepat nya tanggal 10 Mei tahun 1993, aku adalah anak dari Ayahku yang pendiam, pekerja keras dan sangat aku sayangi, beliau bernama Bandarsyah, tentunya aku juga anak dari Ibu ku yang cerewet tapi baik, beliau adalah panutanku untuk menjadi strong girl, beliau adalah Ibu Elyana, Ibu yang sangat aku sayangi..

Aku adalah anak bungsu yang memiliki 4 orang kakak, dengan karakter kami yang berbeda-beda, kami di besarkan dalam keluarga yang sederhana  . aku memiliki 3 kakak laki-laki dan 1 kakak perempuan. Di usiaku yang sudah memasuki 19 tahun ini, aku sudah memiliki 3 keponakan yang lucu-lucu dan menggemaskan.
Saat aku usia 5 tahun aku sudah di masukkan ke Sekolah Taman Kanak-Kanak Dinniyah Putri Lampung oleh kedua orang tua ku. 1 tahun berlalu, aku masuk SD, tepatnya di SDN 5 Sumberrejo aku menghabiskan waktu 6 tahun ku, banyak suka dan duka yang aku lalui bersama teman dan guru-guru yang sangat baik, sampai akhirnya aku lulus dari SD dan mulai memasuki usia ABG, aku masuk SMPN 14 Bandar Lampung, sifat ku mulai berubah di sini, saat aku SD aku adalah murid yang cerewet dan ketika aku masuk SMP aku menjadi sedikit pendiam. Saat usiaku memasuki 15tahun aku lulus SMP dan mulai melanjutkan sekolah ku ke bangku SMA, saat awal masuk SMA aku sedikit down, karena teman-teman ku masuk ke SMA favorit di Bandar Lampung, sedangkan aku masuk ke SMAN 14 Bandar Lampung, bukannya aku menjelekkan sekolahku, tapi benar kata pepatah, tak kenal maka tak sayang. Aku down karna aku tak tahu SMAN 14 itu dimana, apalagi itu adalah sekolah yang masih baru saja berdiri, aku adalah angkatan ke 4 di SMA ku itu.

Ternyata yang aku fikirkan sama sekali berbanding terbalik, Tuhan itu Maha Adil, meskipun aku bukan sekolah di SMA favorit, tapi SMA ku berkembang sangat pesat untuk ukuran sekolah baru, dan sekarang sudah menjadi RSSN. Aku mendapatkan banyak sekali teman dan sahabat di SMA itu, aku yang waktu SMP pendiam mulai berubah ketika bertemu dengan teman-teman di SMA, aku sudah beranjak remaja, banyak sekali kenangan yang aku dapatkan di sana, mulai dari pertama kali aku pacaran saat aku kelas X SMA, aku juga punya gank waktu kelas X SMA, semua guru yang masuk ke kelas ku sudah hapal dengan aku dan 7 teman se-gank ku, hapal karna kami tukang ribut dan hobi ngobrol saat guru sedang menjelaskan di depan kelas. Huehehehe.....

Naik kelas XI aku masuk kelas XI IPA 3, guru-guru memang sudah merencanakan memisahkan kami supaya tak ribut lagi, dan aku hanya sekelas dengan 3 teman se gank ku, dan 4 nya berpisah dengan ku .  Di kelas XI dan XII aku sudah tak terlalu dekat dengan teman se-gank ku waktu kelas X, aku mendapatkan sahabat baru dan kami masih bersahabat sampai saat ini meskipun kami tak satu kampus.

Tahun 2011 aku lulus SMA, dan mulai menapaki kehidupan baru di bangku kuliah, aku masuk Universitas Lampung di Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan, Jurusan PBS, Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia,  lewat jalur tertulis, dan kini aku sudah masuk semester 3, aku juga mengikuti organisasi di jurusan kami yaitu Himpunan Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni (HMJPBS).

Itulah cerita singkat tentang diriku, dan kini aku sedang mencoba ikut Rakanila bersama sahabat-sahabatku di Batrasia Unila. Semoga apa yang aku dan sahabat-sahabat ku jalani bisa menjadi pengalaman yang berharga untuk kami ke depannya 

Jumat, 05 Oktober 2012

CINTA

Seribu langkahmu tak dapat ku kejar..
Semakin jauh kau melangkah semakin hilang bayanganmu ditelan kegelapan..
Aku tak bisa berlari karna aku tak punya kaki..
Aku tak bisa merangkak karna aku tak punya tangan..

Cinta tak hanya milik orang berpangkat..
Cinta tak hanya milik orang berduit..
Cinta tak hanya milik orang yang memiliki kesempurnaan fisik..
Tapi cinta juga bisa jadi milikku..

Ketika rasa ini tak bisa ku ucap karna kekuranganku..
Air mata lah yang mewakili rasa ini..
Aku yang cacat ingin merdeka
Merdeka merasakan cinta

Aku memang tak punya tangan
Aku memang tak punya kaki
Aku memang tak punya rumah
Aku memang tak punya duit

Aku cacat
Aku miskin
Aku lemah
Aku rapuh

Dengan cinta aku ingin merdeka
Merasakan yang bisa aku rasakan
Menemukan yang ingin aku temukan
Meraih yang tak bisa aku gapai..
Aku ingin merdeka ...   bersama cinta...














VIERA – SEANDAINYA

Kelak kaukan menjalani hidupmu sendiri
melukai kenangan  yang tlah kita lalui
yang tersisa hanya aku sendiri disini
kau akan terbang jauh menembus awan…
memulai kisah baru tanpa diriku…

Seandainya kau tau…
ku tak ingin kau pergi
meninggalkanku sendiri bersama bayanganku
seandainya kau tau…
akukan slalu cinta
jangan kau lupakan kenangan kita slama ini

Kelak kaukan menjalani hidupmu sendiri
melukai kenangan yang tlah kita lalui
yang tersisa hanya aku sendiri disini
kau akan terbang jauh menembus awan…
memulai kisah baru tanpa diriku…

Seandainya kau tau…
ku tak ingin kau pergi
meninggalkanku sendiri bersama bayanganku
seandainya kau tau…
akukan slalu cinta
jangan kau lupakan kenangan kita slama ini

Seandainya kau tau
ku tak ingin kau pergi… ooo…
meninggalkanku sendiri bersama bayanganmu
seandainya kau tau
akukan slalu cinta…
jangan kau lupakan kenangan kita slama ini…hoo…
slama ini…

Senin, 01 Oktober 2012

Cerpen Tanpa Judul


Ini cerpen buatan aku sendiri tapi belum ada judul nya :) kalo ada yang mau kasih saran judulnya boleh :))




Aku adalah seorang anak yang sedang mencari keadilan atas hidupku, selain mencari sesuap nasi tentunya. Aku bukan di lahirkan dalam lingkungan keluarga, tapi aku di lahirkan di jalanan. Aku tak tahu bagaimana Tuhan menciptakan ku, apa aku di lahirkan dari dalam perut seorang ibu?
Entahlah meskipun teori mengatakan seperti itu, tapi perut ibu mana yang telah melahirkan ku?
**
Di suatu malam yang dingin aku melangkah menyusuri jalan kecil di sebelah toko kelontong di pasar pagi. Malam sudah semakin larut, sudah waktunya tidur untuk anak-anak seusiaku, tapi aku belum bisa memejamkan mata karena tempat ku biasa tidur di genangi air dan aku harus mencari tempat lain yang tidak basah.
**
Hujan semalaman sangat deras sekali, memaksa ku harus pindah tidur di depan toko yang halamannya memiliki atap. Suara mesin-mesin mobil di jalan pagi ini membangunkan ku, pagi ini tak seperti biasanya aku bangun terlambat. Pemilik toko tempat aku tidur sudah membuka tokonya, mimik wajahnya seperti ingin memarahi ku, aku sangat maklum kalau si pemilik toko ini memarahiku karna aku tidur di depan toko nya tanpa meminta izin terlebih dahulu.
aku buru-buru bangkit lalu melipat kardus dan koran alas aku tidur semalam, aku membungkukkan sedikit tubuhku kepada pemilik toko yang ternyata malah mengalihkan pandangannya dari ku ke pembeli yang masuk ke tokonya. Kemudian aku bergegas lari dan memulai aktivitasku pagi ini.
**
“koran pak”
“mas korannya mas”
Suaraku makin beradu dengan suara kenalpot kendaraan, memaksa ku untuk semakin mengeraskan suaraku.
Pagi ini aku memulai aktivitas ku dengan berjualan koran di salah satu lampu merah di daerah Bandar Lampung. Kebetulan lampu merah tempat aku berdagang dekat dengan salah satu kampus ternama di Kota Bandar Lampung ini, jadi Jika koran yang aku jajakkan tidak habis di lampu merah, aku mendatangi mahasiswa-mahasiswa di kampus tersebut.
Tin.....tiiinnn.....
Suara klakson motor dari samping kanan ku menyadarkan aku dari lamunan.
“dek jangan di tengah jalan dong” suara parau keluar dari mulut yang ditutupi helm itu.
“maaf bang” jawabku kemudian langsung mundur teratur.
Akhir-akhir ini aku sering sekali melamun, apa saja bisa aku lamunkan, apa saja bisa aku pikirkan. Aku ingat seminggu yang lalu saat aku menjajakkan koran ku di saat lampu lalu lintas berwarna merah, seorang anak perempuan –yang sepertinya seuisiaku- mengeluarkan kepala nya dari dalam mobil dan memanggilku.
“Mas korannya dong”
“mau yang seribuan apa duaribulimaratusan?”
Anak itu bertanya sebentar dengan orang di sebelahnya, lalu sambil tersenyum dia  menyerahkan uang selembar lima puluh ribuan kepadaku
“apa aja deh yang penting berita nya bagus”
Karena lampu sebentar lagi menghijau aku langsung memberikan koran tersebut.
“uang nya gak ada yang kecil? Saya gak punya susuknya”
“gak papa ambil aja kembaliannya”
Aku baru saja menerima uang selembar lima puluh ribu itu,  mobil anak gadis itu sudah melaju melewati lampu yang berubah hijau itu.
Aku terkesima, seragamnya masih putih merah, tapi dia sudah punya uang segitu, dan tadi aku sempat melirik dompet nya yang berwarna pink bergambar mickey mouse, simpel tapi sepertinya mahal harganya.
**
Setelah aku mengerjakan pekerjaan ku berjualan koran, tak lupa aku beserta teman-temanku yang lainnya menyetorkan uang hasil penjualan kami kepada agen koran kami. Hari ini aku mendapatkan dua puluh ribu rupiah, lumayan untuk ku makan satu hari, dan sisanya untuk ku menabung.
Adzan zuhur telah berkumandang, ku pandangi tubuh ku yang kumel ini, aku harus mencari wc umum untuk mandi, kemudian menunaikan kewajiban ku untuk Solat, sudah hampir lupa aku bagaimana caranya solat, setelah aku mengadu kepada Tuhan, aku pun melanjutkan pekerjaan ku.
**
Ku pungut satu demi satu, lalu ku masukkan ke dalam karung ku aqua-aqua gelas di depan salah satu gedung di kampus tempat aku biasa menjajakkan koran ku selain di lampu merah. Kebetulan hari ini ada acara seminar di depan gedung ini jadi banyak aqua-aqua gelas berserakan. Untuk ku, apapun asal bisa menghasilkan uang yang halal, pasti akan aku kerjakan.
Lumayan hasil gelas-gelas aqua yang aku kumpulkan tadi dapat lima ribu rupiah setelah di jual, uang yang aku dapat dari selain aku menjajakkan koran biasa nya aku kumpulkan untuk membeli kebutuhan sehari-hariku.
Hari sudah mulai gelap, aku tak tahu ini pukul berapa, yang aku tahu hari ini Masjid sudah adzan 5 kali. Aku duduk bersandar di bawah pohon di pinggir jalan dekat Lampu Merah. Ku lihat mobil yang berlalu lalang, aku jadi teringat anak yang tempo hari aku lihat, yang memberikan ku uang limapuluhribu, aku tak tahu itu terlalu mahal untuk ku, atau terlalu sedikit baginya. Pikiranku pun kembali menerawang, aku ingat tujuh hari yang lalu, rumah kardus yang aku dan empat teman ku bangun di robohkan, sudah 5 bulan kami menempati rumah itu, namun harus di gusur, karena katanya di sana akan di bangun Gedung Olahraga, seperti Wisma Atlit. Tak hanya aku tapi banyak warga lain disana pun merasakan hal yang sama. Aku selalu menjadi korban gusuran, mungkin kalau di umpamakan aku seperti orang kaya yang pindah-pindah rumah terus.
Apakah yang akan di bangun di sana seperti Wisma Atlit yang di Riau ya?
Tanyaku dalam hati.
Tapi kalau iya, berarti pemerintah akan menghabiskan banyak uang untuk pembangunannya, apakah juga akan memberikan hasil yang mengecewakan?
Ah entahlah, aku sudah berfikir terlalu jauh tentang negeri ini, aku terlalu awam untuk memikirkan hal seperti ini. Yang aku tahu hanya mengisi perut, mencari uang, dan mencari di mana aku harus mendirikan kardus-kardus ku ini.
“Hei Iwan, dari tadi kita nyari kamu” suara teman ku Rona, memecahkan lamunanku.
“Malem ini kita harus sudah menemukan lokasi baru kita” terang Dono.
“Iya ayok tunggu apa lagi” teman ku yang lain nya menimpali.
Kemudian aku bangkit dari duduk ku, dan bersama ke empat teman ku, kami mencari tempat baru untuk mendirikan rumah kardus kami lagi.
Beginilah hari-hari ku, kecil di jalan, besar di jalan, entah mati pun mungkin juga di jalan?
Jalan adalah rumah ku..
Jalan adalah ibuku..
Jalan adalah bapakku..
-TAMAT-

Sabtu, 29 September 2012

Pertanyaan Untuk Tuhan :)


Aku adalah seseorang yang sedang mencari keadilan
Aku adalah kotoran negeri ini
Aku tak punya ayah
Aku tak tahu apa rasaya punya Ibu

Aku sedang bertanya pada Tuhan Bagaimana aku bisa DIA ciptakan?
Aku lupa apakah aku pernah berkomunikasi dengan Tuhan?
Apakah aku meminta-Nya untuk menciptakanku?
Perut Ibu mana yang telah melahirkan ku?

Aku adalah korban penderitaan negeri ini
Aku adalah tersangka penderitaan negeri ini
Apakah aku benalu bagi Negara ku?
Atau apakah aku adalah korban para pendosa negeri ini?

Aku tak begitu pintar
Bangku sekolah pun tak sempat aku makan
Aku tak sedang menghakimi
Aku hanya sekedar merenungi

Jika aku dapat meminta
Apakah aku bisa di lahirkan di keluraga kaya?
Hidup bergelimangan harta
Bergaya hedonisme, punya rumah bergaya victory?

Aku tak pernah memilih
Aku tak pernah memutuskan
Aku mengikuti alur ku
Alur hidupku

Jalan adalah rumahku..
Jalan adalah Ayahku..
Jalan adalah Ibuku...

Inilah hidupku
Lahir di jalan
Besar di jalan
Mungkin matipun aku di jalan

Puisi Tanpa Judul


Ini puisi iseng buatan aku :)
tapi belum di kasih judul, daripada berakhir di kotak sampah mending berakhir di blog. hehehehe

Seribu langkahmu tak dapat ku kejar..
Semakin jauh kau melangkah semakin hilang bayanganmu ditelan kegelapan..
Aku tak bisa berlari karna aku tak punya kaki..
Aku tak bisa merangkak karna aku tak punya tangan..

Cinta tak hanya milik orang berpangkat..
Cinta tak hanya milik orang berduit..
Cinta tak hanya milik orang yang memiliki kesempurnaan fisik..
Tapi cinta juga bisa jadi milikku..

Ketika rasa ini tak bisa ku ucap karna kekuranganku..
Air mata lah yang mewakili rasa ini..
Aku yang cacat ingin merdeka
Merdeka merasakan cinta

Aku memang tak punya tangan
Aku memang tak punya kaki
Aku memang tak punya rumah
Aku memang tak punya duit

Aku cacat
Aku miskin
Aku lemah
Aku rapuh

Dengan cinta aku ingin merdeka
Merasakan yang bisa aku rasakan
Menemukan yang ingin aku temukan
Meraih yang tak bisa aku gapai..
Aku ingin merdeka ...   bersama cinta...

KADO UNTUK MAMA




Tiririt....tiriririt....tiriiririt....
Dari tadi suara Jam weker tak mampu membangunkan tidur Andi.
“Andi bangun ini udah mau jam setengah tujuh” suara Mama membangunkan putra satu-satunya ini, sambil menarik selimut yang menutupi tubuh Andi.
“Mama dingin, selimutnya” jawab Andi sambil mengulet di kasur yang di baluti seprai merah berlambang Manchester United.
“Udah jam setengah tujuh Andiii” seru Mama sekali lagi dengan lebih membesarkan volume suaranya.
Dengan nyawa yang baru 5% terkumpul di tambah kekagetannya dengan kecepatan jantung 80km/jam Andi langsung meloncat dari tempat tidur nya melebihi kecepatan atlet lompat tali karet.
Dia langsung menyerobot masuk kamar mandi yang di depannya sudah ada 3 makhluk yang mengantri sedari tadi.
“Andiiii” Annisa kakak Andi geram melihat adiknya menyerobot kamar mandi yang seharusnya dia duluan yang masuk.
“iiiih bang Andi harusnya mbak anis dulu yang masuk, abis mbak anis trus gita abis itu baru abang andi, antri dong” jawab gita adik Andi.
Erza kakak sulung mereka baru membuka pintu kamar mandi dan ingin bergegas keluar menjadi terhalang karena keributan mereka.
“kalian ini masih pagi udah ribut, coba minggir dulu Mbak mau lewat”
Setelah mereka memberikan jalan kepada Erza, mereka bertiga langsung berebut masuk kamar mandi. Terjadilah keributan perang dunia ketiga di dalam kamar mandi.
“harusnya gue duluan, keluar dong andi , gita”
“bang andi juga gak mau keluar, gita juga gak mau keluar lah”
“andi keluar dong”
“ah gak mau gak mau, terserah pilih kita mandi bertiga apa kalian yang keluar” jawab Andi.
“APAAA?? Mandi bareng?”  jawab Annisa dan Gita bersamaan.
“serang dek” ajak Annisa kepada Gita, mereka berdua mengambil ancang-ancang siap menyiram Andi dengan air.
“Mamaaaaaaaa” teriak Andi. Annisa mendorong-dorong Andi keluar dari kamar mandi, sementara Gita menyiramkan Andi sampai akhirnya dia menyerah dan keluar dari kamar mandi.
“Gila ya, adek gila, kakak gila, ini penganiayaan nih, harus dilaporin ke KOMNAS Perlindungan Laki-Laki!”
“Bodo amat” teriak Annisa dan Gita dari dalam kamar mandi sambil tertawa.
“Mandi berduaan, homoseksual kalian itu. Mending mandi sama gua lah, lesbi kalian berdua itu ya?” Andi masih saja menggerutu, sampai dia mendapat giliran kamar mandi pun dia masih saja berbicara sendiri.
“Gak kakak, gak adek sama-sama freak”.
**
Hari ini tak seperti biasanya, rumah keluarga pak Iskandar yang biasanya selalu ribut dan gaduh terlihat lengang, bukan karena tak berpenghuni, melainkan ke 4 orang anak nya terlihat akur di dalam satu kamar, yaitu kamar milik Erza.
“Kalian tau kenapa kalian mbak kumpulin disini?”
“enggak” jawab Andi, Annisa, dan Gita kompak.
“tau gak 9 hari lagi hari apa?”
“hari minggu mbak?” jawab Gita
“iya hari minggu, tanggal berapa coba?”
“tanggal 1 Oktober! Ulang tahun Mama !” jawab Annisa dengan bersemangat.
Andi yang tadi nya tak terlihat tertarik dengan percakapan ke 3 Saudara kandungnya, jadi ikutan mengeluarkan suara.
“jadi kita mau buat rencana apa?” tanya Andi
“Nah itu dia, maksud mbak ngumpulin kalian ini untuk ngebahas kita mau buat acara apa untuk mama?”
Mereka berempat berfikir keras, sekeras batu tapi hening sekali tak sekeras suara musik yang sedang mereka setel di kamar Erza. Mereka sengaja menyetel kuat-kuat radio tape agar Mama dan Papa tak mendengar perbincangan mereka.
**
“sekarang udah H-8, tapi kita belum nemuin rencana untuk ulang tahun mama” kata Annisa.
Mereka sudah berkumpul kembali d kamar Erza, seperti malam kemarin.
“Yaudah kita kumpulin aja dulu uangnya” jawab Andi.
“Tapi kan harus jelas dulu kita butuh dana berapa?” timpal Erza.
“Kalo Gita Cuma punya celengan ayam, itu juga belum sampe setahun ngisinya” jawab Gita sambil memainkan permen lollipop nya di dalam mulut.
“Iya Gita berapapun uang yang Gita punya mbak gak maksain, yang penting kita semua berpartisipasi dalam rencana ini” Erza mengelus rambut adik bungsunya itu.
Mereka maklum saja karena Gita masih kelas 5 SD, dia hanya punya uang dalam celengan ayam nya.
“jadi apa dong” tanya Andi, mengembalikan mereka ke topik intinya.
“gimana kalau kita buat candle light dinner buat mama sama papa, makan malam romantis di luar dengan di temani cahaya lilin, uuuh so sweet” Annisa mulai menghayal.
“iya terus kita buatin kue ulang tahun untuk mama,pasti mama seneng deh” Gita memberikan saran.
“kalau mbak sih setuju-setuju aja, kamu gimana ndi?” tanya Erza kepada Andi.
“Aku setuju juga, soalnya mama sama papa kan udah lama banget gak makan malem berdua di luar”
Akhirnya malam itu mereka memutuskan untuk memberikan mama dan papa hadiah makan malam berdua diluar dan kue ulang tahun buatan mereka.
**
Sudah hari keenam Andi bekerja di salah satu tempat cuci steam motor mobil, kebetulan salah satu pegawai di sana sedang sakit, jadi Andi bisa menggantikannya. Andi hanya bekerja dari dia pulang sekolah pukul 2 hingga pukul 7 malam. Sehingga dia jarang makan malam di rumah, dia beralasan kepada mama nya seminggu ini dia punya banyak tugas sehingga harus kerja kelompok bersama teman-temannya dirumah Rendi sahabat Andi.
Hari ini tepat H-3 ulang tahun mama, seperti biasa ke empat kakak adik ini berkumpul dikamar Erza. Saat mereka sedang asyik berbincang, Mama muncul dari balik pintu.
“Kalian lagi bahas apa sih? Mama boleh ikutan gak?” mama tersenyum dan melangkah masuk ke kamar Erza yang serba biru dan duduk di pinggir tempat tidur nya.
“Ah mama ini kan urusan anak muda” Jawab Andi sambil mengedipkan mata.
“Akhir-akhir ini mama liat kalian kumpul terus di kamar ini, tapi mama seneng anak-anak mama yang biasanya tiap hari ribut lah, berantem rebutan kamar mandi lah, sekarang udah pada akur ya?” Mama mengelus kepala Gita yang duduk tepat di sebelahnya.
“hehehe... kita cuma ngobrol-ngobrol aja mah, tentang film yang lagi ada di bioskop, Andi mau ngajakin pacarnya nonton ma, jadi dia minta saran sama adek dan kakak nya yang perempuan ini, ya kan ndi?” Annisa menyikut tangan Andi sambil memainkan mata.
“Eh em, iya ma” Andi kebingungan. Lalu mama memberikan nasehat-nasehat nya pada Andi, Mama bukan nya mengizinkan atau malah melarang anak-anaknya untuk pacaran, tapi mama selalu mewanti-wanti anak-anaknya untuk lebih mengutamakan pendidikan terlebih dahulu, pacaran boleh tapi jangan di buat galau kata mama.
Setelah mama keluar dari kamar Erza, Gita dan Annisa kembali mengeluarkan celengan yang mereka sembunyikan di bawah ranjang Erza, untung saja mereka tadi tahu mama akan ke kamar Erza, sehingga mereka langsung buru-buru menyembunyikan celengan tersebut.
Mereka mulai menghitung uang-uang yang mereka kumpulkan, Andi juga sudah mendapatkan upah nya mencuci selama 6hari.
“uang ku Cuma seratus lima ribu kak di celengan”  Gita membuka percakapan.
“punya ku seratus lima puluh ribu” Annisa menunjukkan uang-uangnya dari celengan dan dari uang jajan nya seminggu kemarin.
“kalo ini sisa gaji mbak bulan ini ada tiga ratus ribu” jelas Erza kepada adik-adiknya.
“Aku ada dua ratus lima puluh ribu, ini upah aku selama seminggu mencuci dan udah di tambahin sama tabungan ku” kata Andi sambil nyengir.
Akhirnya mereka berhasil mengumpulkan uang Rp. 805.000, Erza berencana besok akan menghubungi teman nya yang bekerja di salah satu restaurant untuk booking tempat agar bisa mendapatkan tempat duduk yang strategis. Sedangkan Annisa, Gita dan Andi bertugas memesan kue ulang tahun nya.
**
Annisa baru saja melangkah kan kaki nya masuk rumah dan mendengar suara orang terisak, dia mencari arah suara itu berasal,
“Terimakasih bu Lia, saya permisi pulang dulu” sambil menyeka air matanya Ibu yang sebaya dengan Mama itu melangkah keluar rumah, dan menyunggingkan senyum kepada Annisa saat mereka berpapasan di depan pintu.
**
“Jadi tadi bu jujun ke sini cari pinjaman uang untuk berobat anaknya?” tanya Annisa, setelah mama nya menjelaskan secara singkat maksud kedatangan Bu Jujun tetangga samping rumah mereka.
“Kalau mama punya uang mama ingin sekali meminjamkan nya, tapi ini tanggal tua, papa mu juga belum gajian, mama juga gak punya pegangan sampai 800ribu”
Ternyata Ibu Jujun tadi datang untuk meminjam uang kepada Mama sekaligus curhat sedikit, kasian Ibu Jujun adalah seorang Janda dengan 3 orang anak, anaknya Dera sedang di rawat di rumah sakit karena Demam Berdarah, Dera itu adalah anak bungsu nya kira-kira usianya 11tahun, seumuran dengan Gita.
Mama terlihat murung, karena dia tidak bisa membantu tetangga nya sendiri, Annisa sampai tak tega melihat wajah mama, tak biasanya mama sesedih ini.
“Mama hanya membayangkan saja, kalau mama di posisi Ibu Jujun, harus menghidupi anak-anak tanpa suami, dan sekarang harus cari pinjaman sana-sini untuk biaya berobat anaknya”
Kata-kata mama terngiang-ngiang di kuping Annisa.
**
Hari kedua sebelum ulang tahun mama, seperti biasa malam harinya mereka sudah berkumpul di kamar Erza untuk membahas progres rencana ulang tahun mama.
“Mbak tadi udah menelpon teman mbak untuk booking tempat” Erza menjelaskan panjang lebar bagaimana mereka akan menyeting tempat candle light dinner mama dan papa.
“Mbak aku kepikiran kata-kata mama tadi siang” Annisa yang sedari tadi diam membuka suara.
“Kata Mama, dia hanya membayangkan saja, kalau mama di posisi Ibu Jujun, harus menghidupi anak-anak tanpa suami, dan sekarang harus cari pinjaman sana-sini untuk biaya berobat anaknya”
“Apa kita gak terlalu berlebihan ya mbak merayakan ulang tahun mama, menghambur-hamburkan uang, sementara tetangga sebelah rumah kita lagi butuh uang untuk biaya berobat anaknya” Annis masih melanjutkkan kata-katanya.
“Gimana kalau uang 800ribu kita ini kita pinjamkan aja sama bu Jujun, dia lebih membutuhkan, anaknya gak bisa keluar dari rumah sakit kalau belum bayar administrasinya”
Kemudian semua hening, berfikir...
“Aku sih setuju-setuju aja, apalagi Dera kan temen ku, kasian dia lebih butuh untuk biaya berobatnya” jawab Gita dengan kepolosannya.
“Aku juga setuju-setuju aja, soalnya aku yakin mama pasti seneng kalau ngeliat anak-anaknya bisa menolong orang lain. Gimana mbak Erza?” Jawab Andi
Erza tersenyum kemudian meraka saling berpelukkan, dalam hati Erza berkata meskipun adik-adiknya suka ribut dirumah, tapi mereka memiliki hati yang mulia.
**
Hari ini adalah Hari Ulang Tahun Mama, mereka hanya merayakan secara sederhana dirumah, kebetulan ini hari minggu, jadi semuanya ada dirumah, Papa, Erza, Annisa, Andi, dan Gita membantu mama memasak di dapur. Bukannya membantu Andi dan Gita malah bermain lempar-lemparan wortel, membuat dapur menjadi gaduh.

**
Pagi ini mereka sudah berkumpul di meja makan, untuk menikmati makanan yang telah mereka masak bersama-sama di dapur tadi.
“Ma, nanti abis makan, ada yang mau kami tunjukin sama mama” kata Erza kepada Mama.
**
Setelah makan, mereka sudah berkumpul di ruang tengah, menikmati acara televisi pada minggu pagi ini.
“Ini uang Rp. 800.000, tadinya kita mau ngasih mama kue ulang tahun dan candle light dinner sama papa, tapi kata Annisa kemaren bu Jujun kesini mau pinjem uang untuk biaya Rumah Sakit Dera, jadi uang ini gak papa kan ma kita kasih aja ke bu Jujun” kata Erza,
Erza juga menjelaskan uang itu berasal dari uang tabungan Gita dan Annisa, sisa Gaji Erza dan uang hasil kerja Andi seminggu kemarin, Andi pun jujur bahwa kemarin-kemarin itu dia bukan belajar kelompok tapi bekerja paruh waktu untuk mengumpulkan uang untuk mama nya.
“Iya ma, mama gak marah kan?” Tanya Andi
Mama diam lama dan berfikir...
“Mama boleh kan kita pinjemin atau kita kasihin aja ke Bu Jujun? Mama kan bilang kemarin Mama gak bisa ngebayangin, kalau mama di posisi Ibu Jujun, harus menghidupi anak-anak tanpa suami, dan sekarang harus cari pinjaman sana-sini untuk biaya berobat anaknya” sambung Annisa
Tanpa terasa mama meneteskan air mata, merasa terharu atas sikap anak-anaknya.
“Jadi kalian mengumpulkan uang untuk hadiah ulang tahun mama, tapi sekarang mau memberi uang itu ke bu Jujun?” tanya mama.
“Mama bangga punya anak seperti kalian, mau menolong antar tetangga” sambung mama lagi ”Memiliki anak yang berbudi baik seperti kalian itu sudah jadi hadiah terindah untuk mama nak”
“Yasudah kalian siap-siap yuk kita ke rumah sakit saja sekarang” kata Papa yang juga tersenyum bangga melihat kebaikan ke empat anaknya.
**
Dan akhirnya mereka semua pergi ke Rumah Sakit untuk menjenguk sekaligus memberikan sedikit uang mereka untuk membantu Bu Jujun.
“Ibu gak perlu ganti uang nya, kami ikhlas kok” kata Andi. Dan di iyakan oleh Gita, Annisa dan Erza.
Bu Jujun sangat berterimakasih kepada keluarga Bapak Iskandar yang begitu mulia hatinya.
_TAMAT_